
Ini tentang kisah saya pribadi menuju ke jenjang pernikahan. Kadang kalau ingat proses nya, senyum senyum sendiri. Allah itu lebih tahu daripada kita. Dan takdir yang dipilih Allah untuk kita Insyaallah adalah yg terbaik.
Sebelum saya mulai akan ada beberapa catatan,
1. Nama hanya samaran
2. Lokasi belum tentu sama
3. Agak lupa, sudah lebih dari 5 th yg lalu
4. Buat istriku : jangan cemburu yah, hanya berusaha berbagi pengalaman dan mengambil pelajaran.
5. Buat teman yg kenal saya cukup tersenyum saja ya, dilarang komen. :D
Ok saya mulai,
Menginjak umur 25 tahun, idealisme saya muncul. Yaitu target mengikuti Rasulullah, yang menikah umur 25 tahun. Dan dari situ saya mulai mengutarakan niat pada orangtua saya. Alhamdulillah orang tua saya mengijinkan, dan ada permintaan untuk tetap bantu keuangan ortu yang notabene masih terjerat utang. Yang tentu saja saya iyakan.
Dari situ saya coba untuk memulai 'misi' saya itu. Sebelumnya saya sempet kenal dekat dengan seorang akhwat, saya sebut saja akhwat01. Saya sempet jatuh hati karena akhlak nya yang insyaallah lebih baik dari akhwat pada umumnya, ya tentu saja wajah yang cantik tidak bisa dipungkiri. Saya kenal dia semenjak kuliah, beda jurusan. Ketegasan dia soal agama bikin saya tertarik. Komunikasi dengan akhwat01 ini sempat putus nyambung, ya karena saya adalah orang yang tidak setuju dengan istilah pacaran. Akhirnya sempat satu titik, saya hapus semua kontak dia dari hp saya. Email, chat, semuanya lah. Yang intinya berusaha balik hati ini untuk lurus lagi. Dengan beda fakultas, berharap minim kontak. Tapi Allah punya caranya sendiri. Setelah rentang waktu tertentu, dia kontak saya karena ada perlu. Dari situ komunikasi kembali terjadi. Dan akhirnya saya serahkan sama Allah saja, takdir apa yang akan terjadi. Dengan berjalannya waktu, dia akhirnya mungkin mulai sadar bahwa saya ada 'rasa' sama dia. Dari situ, akhwat01 menjauhi saya. (Jaga jarak?). Ya begitulah, komunikasi putus nyambung itu berjalan. Nah karena saya sudah mantap menjalankan 'misi' pencarian jodoh ini, saya utarakanlah niat saya. Saya ingin mengajukan proposal sama dia. Tapi dia akhirnya terbuka, bahwa di tangan dia sudah ada proposal seorang Ikhwan. Walaupun akhwat01 belum mengambil keputusan. Tapi entah kenapa perasaan saya langsung bilang, bahwa akhwat01 bukan jodoh saya. Dan saya putuskan mundur 'mengejar' dia. Saat itu idealisme untuk 'mengejar' ridho illahi begitu kuat. Selalu berdoa, untuk dipilihkan jodoh terbaik menurut Allah untuk saya.
Gagal dengan akhwat01, kemudian saya lanjutkan pencarian saya. Ada dua pilihan, satu: masuk in proposal ke murabi, dua: memproses tawaran ibuk. Karena ibuk sudah tahu niat saya, maka Beliau pun coba menawarkan akhwat02 yang notabene putri teman ibuk. Tawaran ini sebenarnya sudah lama, bahkan sebelum saya mengutarakan niat saya ke akhwat01. Tapi saat itu, tidak saya lihat sama sekali. Photonya pun hanya saya lihat sepintas doang...
Mundur dari akhwat01, akhirnya saya ambil tawaran ibuk. Ya sekalian menyenangkan hati orang tua. Pilihan ini sempat saya konsultasi kan dengan murobi saya. Kalau murobi saya menyarankan sih lewat jalur proposal saja, karena kalau saya mencoba bertamu ke ortu akhwat02. Saya tidak akan punya pilihan selain maju terus. Tapi akhirnya tetap ambil pilihan opsi tawaran ibuk. (Nekat?). Dan ternyata benarlah prediksi murabi saya... Opsi ke dua ini deal. Pernikahan dipersiapkan kurang dari setahun, tapi karena ini itu... Endingnya hanya sekitar 3-4 bulan kalau tidak salah.
Nah setelah opsi ini deal. Ada seorang akhwat dari kota ibuk dibesarkan. Yang saya sempat berkenalan dengan dia karena saya ke kota tersebut untuk ikut ujian cpns. Sebutlah akhwat ini dengan sebutan akhwat03. Akhwat03 tidak pernah berkomunikasi dengan saya. Dia lebih sering komunikasi dengan ibuk. Akhirnya akhwat03 mengutarakan niat ke ibuk untuk ditawarkan ke saya. Posisi ini saya sudah deal dengan akhwat02, tapi baru seminggu kalau tidak salah. Alhasil ibuk pun, mengabari akhwat03 bahwa saya sudah sepakat menikah dengan akhwat02. Saya tidak bisa membayangkan perasaan akhwat03 saat itu. Ya tapi begitulah takdir Allah berjalan, akhwat03 terlambat. Kesepakatan telah diambil, pencarian saya sudah selesai. Saya akhirnya menikahi akhwat02.
Ada yang menanyakan kok bisa dengan cepat merubah 'arah' hati ?
Ya jawabnya simple insyaallah yang dipilih Allah lebih baik buat saya. Pautan hati pasti masih tertinggal tapi saya hanya berkeyakinan, hati itu mudah bolak balik. Allah yang maha pembolak balik hati. Ya kembali lagi, niat awal kita bagaimana. Mengejar pujaan hati ataukah menikah karena Allah ?
Insyaallah inilah takdir Allah untuk saya.
Pelajaran :
1. Tidak usah pacaran lah... Belangnya seseorang hanya terlihat setelah menikah. Pacaran hanya bikin banyak dosa menumpuk.
2. Kalau sudah siap, langsung saja proses kemungkinan yang ada. Kalau belum jodoh, insyaallah gagal kok. Lalui saja prosesnya. Dan selalu berdoa tentunya.
3. Jangan terlalu pasang standar tinggi. Manusia tidak ada yg sempurna. Ada plus dan minus... Utamakan akhlak nya... Insyaallah itu sudah lebih dari cukup.
4. Apapun hasilnya, percaya lah Allah lebih tahu mana yang terbaik buat kita.